tag:blogger.com,1999:blog-13787728.post-1146891824295564462006-05-05T22:01:00.000-07:002006-05-05T22:03:44.386-07:00MENUMBUHKAN UKM DI SEKITAR INDUSTRI BESAR<ul><li><strong><span style="color:#3333ff;">MENUMBUHKAN UKM DI SEKITAR INDUSTRI BESAR<br /></span><span style="font-family:arial;font-size:130%;color:#ff0000;">Jangan Hanya Melahirkan Tukang Bakso</span></strong><br /><br /><br />SEJAK zaman orde baru, impian akan lahirnya UKM (Usaha Kecil dan Menengah) diantara usaha-usaha berskala besar senantiasa masih jadi harapan, malah kadang kita mulai beranggapan itu sebagai hal yang utopis belaka.<br />Dalam tataran ideal, kita berharap sebuah kawasan industri misalnya di Jababeka serta berbagai kawasan industri besar lainnya di Indonesia, akan lahir dan bertumbuhan usaha-usaha kecil dan menengah yang ikut menopang usaha besar tersebut. Sebutlah misalnya, sebuah usaha pesawat telepon, ada komponen-komponen yang dihadilkan oleh UKM di sekelilingnya.<br />Belakangan wacana yang dimunculkan dari kawasan industri Jababeka untuk mendorong tumbuhnya UKM di sekeliling industri besar patut disambut gembira oleh para pelaku UKM.<br />Tapi apa memang bisa?<br />Yang terjadi justru sebaliknya. Yang banyak adalah lahirnya tukang bakso, pedagang lontong di sekitar pabrik besar. Kita tidak menyebut apakah di sekeliling Jababeka yang sarat industri, UKM tumbuh menjadi UKM yang mengikuti mainstream Jababeka? Jangan-jangan yang terjadi justru lebih banyak pedagang nasi Padang.<br />Ini sesungguhnya persoalan kita. Kesungguh-sungguhan membesarkan UKM belum terlihat nyata. Para industriawan masih dihingapi rasa sak wasangka kalau-kalau yang kecil kelak menelan yang besar. Jelas ini adalah pikiran absurd yang tidak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan obyektif.<br />Padahal, sebuah kolaborasi yang memunculkan kawin mengawin antarkebutuhan akan dapat menghasilkan sinergi yang luiar biasa bagi keseluruhan industri yang berada dalam satu kluster.<br /><br />Lihatlah di Jepang misalnya, pada pusat-pusat industri besar, disebar unit-unit UKM yang mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan apa yang dihasilkan industri besar. Dalam kluster itu antara industri besar hidup seperti aur dan tebing dengan industri kecil dan menengah.<br />Kehadiran industri besar di tengah-tengah industri kecil dan menengah atau sebaliknya usaha kecil dan menengah di dalam pusat industri besar semestinya ditujukan untuk saling menghidupi. Kalaupun ada semacam kemauan baik dari industri besar dan atau BUMN untuk membina UKM janganlah karena terpaksa. Seperti selama ini sudah ada bentuk-bentuk perhatian dari apa yang dikenal dengan Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi oleh BUMN, kessannya masih sekedar belas kasihan. Beloum menjurus pada kesungguh-sungguhan membina UKM secara profesional. Sisa-sisa tenaga dan kelbihan sedikit keuntungan memang sudah diberikan kepada UKM, tapi genjotannya belum terasa benar.<br />Padahal impian nasional adalah menjadikan lingkungan usaha besar yang kondusif guna mendorong terciptanya produktivitas. Yang dimaksud di sini adalah produktivitas usaha besar, menengah dan kecil. Tidak hanya produktivitas usaha besar itu sendiri.<br />Belum banyak kita dengar industri besar melakukan transfer knowledge pada industyri kecil dan menengah yang berada dalam binaannya atau yang ada pada kluster di mana dia berada. PT Semen Padang misalnya di Padang, tidak melakukan pembinaan usaha kecil dan menengah untuk usaha membuat karung semen, benang penjahit karung atau membuat. Industri-industri di Jababeka adakah membina UKM yang produknya berhubungan dengan produk industri besar di kawasan itu?<br />Padahal kalau semuanya melakukan itu, maka trickle down effect akan berlangsung dan menghasilkan ha-hal positif dibanding dengan melakukan pembinaan pada usaha-usaha yang sama sekali tidak berhubungan langsung dengan industri induk.<br />Dari data di Depertamen Perindag sebelum tahun 2000 misalnya, di seluruh Indonesia terdapat hampir 25 ribu perusahaan besar. Jumlah itu hanya kurang dari 1 persen dari total industri yang ada di Indonesia. Sedang yang lain adalah UKM. Dan pada paruh pertama tahuan 2000an ini tentu jumlah itu sudah melonjak pula.<br />Dalam sebuah ekspos oleh Kementerian Perindag RI, disebutkan bahwa output indusdtri/usaha besar dan sedang sepuluh tahun yang silam saja sudah mencapai nilai lebih dari Rp260 triliun. Sedang total output industrik kecil dan menengah hanya sekitar Rp26 triliun saja atau hanya sekitar sepersepuluhnya saja dari output industri besar dan sedang.<br />Apa sesungguhnya yang terjadi?<br />Bahwa dengan penunjukan angka-angka di atas, ternyata dalam kuantitas UKM memang besar, tetapi kontribusi outputnya hanya sepersepuluh usaha besar. Dan yang lebih nyata dapat kita baca dari situ bahwa kontribusi sumber daya manusia yang bermain di UKM (disamping keminimalan modal) terhadap output nya sangat kecil.<br />Tak dapat dipungkiri rendahnya kualitas SDM pada UKM adalah cerminan dari rendahnya kualitas pendidikan rata-rata penduduk Indonesia. Rata-rata pemain di UKM memang bermula dari intuisi belaka, bermodal sedikit nekad dan coba-coba.<br />Keminiman kualitas tadi telah menjadi salah satu rintangan untuk menggenjot makin besarnya kontribusi output UKM. Para pemain UKM tidak memiliki kapasitas visi yang cukup untuk bisa mengakses ketersangkutan bisnis mereka dengan bisnis usaha besar yang di daerah mereka.<br />Itu jugalah penyebabnya, kenapa UKM-UKM hanya bermain untuk sekedar katering, jasa ATK, cetak mencetak keperluan usaha besar dan usaha tetek bengek lainnya. Kita jadi rindu ada UKM yang berada di sekitar pabrik otomotif mengambil spesialisasi membuat onderdil atau bagian dari onderdil atau sub bagian dari bagian onderdil dan seterusnya. Begitu juga kita jadi rindu di sekitar pabrik perakit pesawat televisi, UKM mengerjakan bagian-bagian kecil dari pesawat TV tersebut. Misalnya ada UKM yang membuat dioda, papan rangkaian, membuat saklar dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang berhubungan dengan industri TV tadi.<br />Kalaupun industri besar membuka peluang, tapi bagaimana mereka (UKM) bisa terangsang atau terusik menangkap peluang itu kalau mereka tidak punya pengetahuan dasar dan apresiasi terhadap industri besar itu.<br />Maka selain tugas membuka peluang, industri besar sebenarnya diharapkan untuk terlebih dulu melakukan inkubasi pada UKM-UKM yang ada di sekitarnya. Inkubasi itu bisa berbentuk pengenalan-pengenalan secara umum core bisnis mereka, maupun dengan secara langsung memberikan pengetahuan praktis untuk membuat komponen-komponen tertentu yang bisa dikerjakan UKM.<br />Pada kawasan-kawasan industri hendaknya dari semula sudah diarahkan menjadi kluster-kluster industri yang dapat mengatrol maupun memancing tumbuhnya usaha-usaha kecil dan menengah yang sejalan dengan mainstream industri inti. Jadi kalau boleh dicari bandingnya adalah kira-kira yang seperti yang terbentuk pada sistem inti dan plasma perkebunan.<br />Kehadiran UKM yang produknya bertalian dengan produk industri inti di tempat dia berada, sekaligus juga akan memberikan keuntungan sosial bagi usaha besar. Rasa memiliki dan tanggungjawab UKM untuk ikut menjaga kelangsungan usaha besar akan mencuat. Bukan sebaliknya, usaha besar tiap hari hanya disibukkan oleh ‘gangguan sosial’ UKM yang berada di sekelilingnya. Tuntutan demi tuntuan yang kadang sudah bernuasa politis pun biasanya tiada henti dialamatkan ke pusat usaha besar, kalau mereka tidak dapat membina hubungan yang harmonis dengan sekelilingnya. (eko yanche edrie)</li></ul>eko yanche edriehttp://www.blogger.com/profile/10577208820834813955noreply@blogger.com